Warta & Inspirasi

Ruang
Literasi

Kumpulan pemikiran, renungan, dan kabar terbaru dari jemaat GKI Surya Utama untuk menumbuhkan iman dan kebersamaan kita.

GKI Surya Utama
Admin25 Mei 2026

Roh Kudus yang Terus Berkarya

Hari Pentakosta bukan sekadar peringatan liturgis tahunan. Di balik dekorasi merah yang memenuhi ruang ibadah, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh setiap orang percaya: Seperti apa sesungguhnya karya Roh Kudus itu?Dalam khotbah Pentakosta ini, Pdt. Setiawati Sucipto mengajak jemaat GKI Surya Utama untuk tidak mempersempit pemahaman tentang Roh Kudus hanya pada hal-hal yang spektakuler — mukjizat, kesembuhan, atau suasana ibadah yang luar biasa. Sebab ternyata, Pentakosta sendiri terjadi bukan hanya di tempat-tempat yang megah, melainkan juga di ruang-ruang biasa, di tengah murid-murid yang pernah takut, gagal, bahkan menyangkal Tuhan. Inilah kabar baik: Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk mencurahkan Roh-Nya.Empat Karya Roh Kudus yang Perlu Kita Kenali1. Roh Kudus Hadir bagi Semua OrangMengutip nubuat Nabi Yoel dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus menegaskan bahwa Allah akan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia — anak-anak, orang muda, orang tua, laki-laki, dan perempuan. Roh Kudus bukan hak eksklusif para pendeta atau pemimpin gereja. Seorang ibu yang setia mendoakan keluarganya, seorang pemuda yang berjuang hidup benar, seorang lansia yang tetap berharap kepada Tuhan — mereka semua adalah saluran karya Roh Kudus. Allah senang memakai orang-orang biasa untuk pekerjaan yang luar biasa. Seperti kata Rick Warren: Allah lebih tertarik pada kesediaan seseorang daripada kemampuannya.2. Roh Kudus Terus Memperbarui DuniaMazmur 104 berkata, "Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta dan Engkau memperbarui muka bumi." Roh Allah bahkan sudah berkarya sejak penciptaan — melayang-layang di atas bumi yang belum berbentuk dan kacau balau (Kejadian 1). Artinya, Roh Allah hadir bukan setelah semuanya rapi, melainkan justru di tengah kekacauan itu. Di tengah perang yang belum usai, krisis ekonomi yang mencemaskan, dan relasi yang retak — Roh Kudus tetap bekerja. Tanda-tandanya nyata: masih ada orang yang mau berbagi di tengah kesulitan, masih ada yang memilih mengampuni di tengah kebencian, masih ada yang membawa pengharapan di tengah keputusasaan. Itulah karya Roh Kudus yang sedang berlangsung hari ini.3. Roh Kudus Mempersatukan Kita dalam PerbedaanBerdasarkan 1 Korintus 12, setiap orang menerima karunia yang berbeda-beda, tetapi semuanya berasal dari Roh yang satu. Gereja tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan di atas kesatuan dalam keberagaman. Mata tidak bisa berkata kepada tangan, "Aku tidak membutuhkan engkau." Generasi tua membutuhkan generasi muda, begitu pula sebaliknya. Roh Kudus bekerja lintas generasi — dan membatasi karya-Nya hanya karena kita terlalu sibuk mempersoalkan perbedaan adalah sebuah kerugian besar bagi tubuh Kristus.4. Roh Kudus Memberi Damai dan Mengutus KitaDalam Yohanes 20, di tengah ketakutan para murid yang bersembunyi di balik pintu terkunci, Yesus hadir dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu." Lalu Ia menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Damai sejahtera Allah bukan tujuan akhir — ia adalah modal untuk diutus. Roh Kudus diberikan bukan supaya kita nyaman bersembunyi di dalam gedung gereja, melainkan supaya kita pergi membawa damai ke tengah konflik, membawa pengampunan di tengah kebencian, dan membawa terang di tengah kegelapan. Ujung dunia itu bukan tempat yang jauh — ujung dunia adalah di mana pun kita ditempatkan hari ini.PenutupPertanyaan iman kita bukan sekadar "Apakah Roh Kudus masih bekerja?" Pertanyaan yang lebih penting adalah: "Apakah kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja melalui hidup kita?"Datanglah, ya Roh Kudus. Baharuilah hidup kami. Satukanlah kami sebagai satu tubuh Kristus, dan berilah kami keberanian untuk terus diutus membawa damai sejahtera bagi dunia ini. Amin.Ringkasan Khotbah Pentakosta | Pdt. Setiawati Sucipto | GKI Surya Utama

Selengkapnya
Pentakosta: Ketika Roh Kudus Turun dan Segalanya Berubah
Admin15 Mei 2026

Pentakosta: Ketika Roh Kudus Turun dan Segalanya Berubah

Pentakosta bukan sekadar perayaan liturgis tahunan. Ini adalah momen ketika langit membuka diri, Roh Kudus turun, dan sekelompok orang yang ketakutan berubah menjadi saksi-saksi yang berani. Kisah Para Rasul 2:1-13 mencatat peristiwa bersejarah yang mengubah wajah dunia untuk selamanya.Ketika Janji Itu DigenapiSelama empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus memerintahkan para murid untuk menunggu di Yerusalem (Kisah 1:4). Pentakosta adalah jawaban atas penantian itu. Tiba-tiba — begitu kata Lukas (ayat 2) — datanglah suara seperti tiupan angin keras dari langit, memenuhi seluruh rumah. Lidah-lidah seperti api hinggap di atas kepala mereka masing-masing. Roh Kudus yang dijanjikan Yesus itu kini sungguh-sungguh hadir.Tanda yang Melampaui BahasaSalah satu tanda paling mencolok dari Pentakosta adalah peristiwa berbicara dalam berbagai bahasa (ayat 4-11). Orang-orang dari berbagai bangsa — Partia, Media, Elam, Mesir, Roma — semuanya mendengar karya-karya besar Allah diberitakan dalam bahasa mereka sendiri. Ini bukan pertunjukan. Ini adalah deklarasi bahwa Injil bukan milik satu suku atau satu budaya. Roh Kudus dari awal sudah merancang misi yang bersifat universal dan lintas batas.Respons yang TerbagiTidak semua orang menyambut peristiwa ini dengan iman. Sebagian kagum dan bingung (ayat 12), sebagian lagi mengejek: "Mereka penuh anggur manis!" (ayat 13). Respons yang terbagi ini mengingatkan kita bahwa karya Roh Kudus selalu mengundang keputusan — tidak ada yang bisa bersikap netral di hadapan-Nya.Pentakosta dan Kita Hari IniPeristiwa Pentakosta adalah kelahiran gereja. Roh yang sama yang turun hari itu masih berkarya hingga kini — mengubah, memampukan, dan mengutus. Pertanyaannya bukan apakah Roh Kudus masih aktif, melainkan apakah kita terbuka untuk dikerjakan oleh-Nya.Pentakosta mengundang kita untuk bukan hanya mengetahui tentang Roh Kudus, tetapi hidup dalam kuasa-Nya setiap hari.

Selengkapnya
Makna Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga Berdasarkan Kisah Para Rasul 1:6-11
Admin13 Mei 2026

Makna Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga Berdasarkan Kisah Para Rasul 1:6-11

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga bukan sekadar peristiwa perpisahan — ini adalah momen teologis yang mengubah arah sejarah keselamatan. Kisah Para Rasul 1:6-11 mencatat dengan jelas bagaimana Yesus terangkat ke sorga di hadapan para murid-Nya, dan apa artinya bagi kita hari ini. Bukan Akhir, Tapi Awal yang Baru Ketika para murid bertanya soal pemulihan kerajaan Israel (ayat 6), Yesus mengalihkan fokus mereka: bukan tentang kapan, melainkan tentang untuk apa. Kenaikan Tuhan Yesus membuka lembaran baru — era Roh Kudus dan era misi. "Kamu akan menjadi saksi-Ku," kata Yesus (ayat 8), menjadikan kenaikan-Nya sebagai titik peluncuran misi gereja ke seluruh dunia. Yesus yang Naik adalah Tuhan yang Berkuasa Kenaikan Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia bukan sekadar guru atau nabi. Ia naik sebagai Raja yang duduk di sebelah kanan Bapa (bdk. Efesus 1:20-21). Ia kini menjadi Pengantara dan Pembela kita di hadapan Allah — kenaikan-Nya adalah jaminan bahwa doa kita didengar dan hidup kita terpelihara. Janji Kedatangan Kembali Dua malaikat dalam ayat 10-11 menegaskan: "Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali." Kenaikan Tuhan Yesus bukan kepergian tanpa kepastian. Justru sebaliknya — ini adalah janji yang kokoh bahwa Ia akan kembali dalam kemuliaan. Pengharapan inilah yang menopang iman Kristen di tengah segala kesulitan. Relevansi bagi Kita Hari Ini Memperingati kenaikan Tuhan Yesus berarti merespons dua panggilan sekaligus: misi dan pengharapan. Kita dipanggil untuk menjadi saksi-Nya di mana pun kita berada, sambil menantikan kedatangan-Nya kembali dengan hidup yang setia. Kenaikan Tuhan Yesus bukan alasan untuk berdiri bengong memandang langit — melainkan undangan untuk bergerak, bersaksi, dan berharap.

Selengkapnya